Masa SD
Aku dilahirkan pada bulan Maret 1956, di sebelah selatan Bali Banjar Kelan Abian, Desa Tuban Kecamatan Kuta, dimana masa-masa itu mungkin sebagaian besar desa-desa di Bali sangatlah terkebelakang namun seinggatku aku tidak pernah sampai kekurangan pangan, karena Ayahku adalah seorang petani tegalan dan ibuku seorang pedagang sayur mayur hasil kebun dan ladang ayahku.
Disamping ayahku sebagai Petani tegalan, juga seorang nelayan karena kakekku juga seorang nelayan yang kebetulan rumahku tidak jauh dari pesisir pantai.
Pantai di dekat rumahku sangatlah indah dengan pemandangan laut lepas di daerah selatan Bandara Ngurah Rai Bali. dulu namanya Lapangan Terbang Sipil Tuban yang merupakan pangkalan Anggkatan Udara dan Penerbangan Domestik rute Jakarta, Surabaya dan Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat (Ampenan)
Usiaku menginjak 7 tahun aku sekolah di SR 1 Tuban, dimana jarak rumah dengan sekolah sekitar 2 Km, dengan berjalan kaki aku selalu rajin sekolah.
Ibu meninggal dunia
Pada saat aku baru saja naik kelas 3 SR (sekarang SD) ibuku meninggal dunia pada tahun 1966 dan pada saat itu masih sangat genting keadaannya dimana tahun 1965 s.d. 1966 di Bali masih dilakukan pembersihan ormas dan antek2 PKI imbas dari Pemborontakan PKI di Jakarta.
Aku tidak mengetahui apa yang terjadi, yang ku tahu hanya penjemputan orang-orang oleh tentara untuk diangkut menggunakan truk militer, dibawa ke daerah selatan di Bukit, katanya mereka semua di bunuh karena diindikasikan terlibat G.30.S /PKI.
Pada saat Ibuku meninggal aku sangat sedih, sedih sekali, karena ibuku sangart sayang kepadaku dan sangat memanjakan aku, karena aku anak laki2 pertama dari Ibuku dan adikku berikutnya lahir tgl 9-9-1959 perempuan, dan adikku terakhir baru laki2 lahir sekitar bulan desember 1962..... jadi adikku pada usia 4 tahun sudah tidak ada ibu.... Kakakku yang pertamalah yang mengasuh adikku.
Ibuku adalah pejuang tangguh... beliau berdagang sayur dari Desaku Kelan, berjualan sayur ke Denpasar dengan jarak tidak kurang dari 16 KM setiap hari mengayuh sepedanya... seingatku beliau berangkat ke pasar pada jam 02.00 dini hari menuju pasar Badung.
Aku tidak dapat bayangkan bagaimana seorang ibu, mengayuh sepeda dengan jarak jauh dipagi-pagi buta.... jalanan pada saat itu tentu sepi, bagaimana kalau sepedanya pecah ban.... aku tidak bisa membayangkan.... memang ibuku tidak sendiri.....mereka ada 5 s.d. 6 orang pedagang seperti ibuku.
Aku katakan Ibuku adalah Perempuan tangguh.
Tinggalah aku dengan ayahku... sepeninggal ibuku ayahku melanjutkan usaha dagang Ibu, karena ibuku disamping jual sayur juga memiliki warung kecil menjual segala kebutuhan rumah tangga, termasuk kopi
Masa-masa sulit
Sepeninggal ibuku aku sering dimarahi ayah, karena aku memang agak hiperaktif, dan untung kakakku ada dua orang perempuan semua, dan adikku persis ada dua (Perempuan dan laki2) jadi aku adalah anak tengah.
Masa2 SD sepeninggal ibuku aku tinggal sama nenek dan kakek, kebetulan rumah orang tuaku masih satu pekarangan dengan mereka. akupun cucu laki2 pertama dari kakek-nenek, sehingga aku sedikit dimanja, walaupun demikian aku berangkat sekolah tidak pernah membawa bekal, karena aku sudah sarapan di rumah. paling2 kalau haus minta minum dikantin sekolah.
Pada tahun 1969 aku tamat SD, namun pada saat aku kelas Enam sekolah ku yang pertama sudah dibongkar dan diganti sekolah baru karena desa Tuban membuat SD baru, dan di Kelanpun dengan gotong royong membangun SD juga, dulunya Kelurahan Tuban mempunyai wilayah tiga desa adat, yaitu : Tuban, Kelan dan Kedonganan. dan Sekarang Kelurahan sudah dimekarkan menjadi dua Keluarahan Tubah terdiri dari dua desa adat Desa Tuban dan Kelurahan Kedonganan berdiri sendiri.
Setamat SD aku melanjutkan sekolah ke SLTP, karena nilai Ujian Nasionalku sangat baik, aku bisa memilih sekolah negeri di Kota Denpasar dulu Badung, Nilai Ujianku waktu itu 9,9.10 (9 Mapel Pengetahuan umum, 9 Mapel Bahsa Indonesia, dan 10 untuk Mapel Berhitung.
Memang pada jamanku hanya tiga mata pelajaran yang diuji secara nasional.
Karena aku tidak mengetahui perbedaan antara ST (sekolah Teknik) dan SMP, maka aku mendaftar saja aku ke ST, dan disana aku dijurukan ke Jurusan Bangunan Gedung .... mulai awal tahun 1969 aku belajar di ST. ternyata di ST diajarkan seperti SMP dan pelajaran pokoknya Tenik dasar bangunan dan gedung, diajar teori teknis menggambar bangunan dan llain-lain.
aku adalah satu2nya yang melanjutkan ke ST bangunan Gedung dan sepupuku melanjutkan ke Teknik Mesin..... jarak rumah dan sekolah cukup jauh yaitu sekitar 16 KM.... awalnya aku naik sepeda....tapi lama2 cape juga.
Tahun 1969 aku masuk di ST Negeri 1 Denpasar yang beralamat di Jalan Gunung Agung Denpasar, dan sekarang sudah dilebur menjadi salah satu SMP di Denpasar, bersebelahan dengan STM Nasional .
Karena jauh jarah rumah dan sekolah aku dititip pada salah satu keluarga orang lain di Denpasar, rumahnya persis di depan SMP 2 Denpasar, namanya Bapak AA Oka, pegawai Post Denpasar, orangnya memang agak berada, bila dibandingkan dengan keluargaku.
Namun dalam perjalanan waktu aku tidak betah tinggal di Bapak Oka, aku memilih pulang ke Kelan - Tuban dan Tinggal di bersama Kakakku Nomor satu, yang kebetulan sudah bersuami dan belum punya anak.
Setiap hari aku harus sekolah demikian jauh jaraknya untunglah pada jaman itu ada Mobil Bus Karyawan Penerbangan Sipil yang mengantar jemput Pegawai, dan kebetulan juga yang jadi sopirnya adalah saudara Nenekku.
Waktu berlalu begitu cepat, aku tamat ST Tahun 1972.
Semasa aku Sekolah dulu aku harus menyabit rumput setiap hari, untuk kuberikan sapi-sapi ayahku, maklum ayahku sebagai petani memiliki sapi.
Mada musim kering (kemarau) dikampungku tidak ada tumbuh rumput, maka aku harus bersepeda sejauh 7 s.d. 8 KM mencari rumput di sawah2 orang disekitar Abian Timbul (Kuta), bahkan sampai ke Suwung Kepawon (Pesanggaran), tapi aku tidak sendiri, banyak orang desa seperti aku, yang menarik mereka juga masih sepupu2 ku.
Setamat ST aku tidak melanjutkan Sekolah ke STM, karena aku pikir pasti orang tuaku tidak punya uang, dan pada tahun 1969 ayahku menikah lagi, dikaruniani anak, namun anak pertama dari pernikahan ke dua meninnggal pada saat masih kecil sekitar usia 4 tahun (aku sangat dekat dengan adikku itu) namanya Wayan Gendri.... aku tidak tahu apa penyakit adikku, kalau aku ingat2 seperti stef.
Karena aku tidak sekolah maka aku menjadi pengangguran, namun demikian aku tetap membantu orang tua diladang dan memelihara sapi, dan kebetulan di desa sebelah ada proyek pengembangan Bandara aku ikut menjadi peladen Tukang ( Buruh bangunan), disitu aku bekerja hanya dua bulan, dan bulan berikutnya aku bekerja sebagai penata taman di sebuah Hotel di Tuban dulu namanya Hotel Pertamina Kotegge.
Disitu aku bekerja kurang dari satu tahun, dan
Akhirnya aku mendapat khabar dari Lombok melalui surat Papanku yang kebetulan bekerja di Kantor Pemda Prov NTB.
Aku disuruh oleh pamanku ke Mataram Lombok, karena di Mataram ada bukaan PNS di Dinas Kehutanan akan dijadikan Polisi Hutan.
Pada bulan Maret 1973 aku pergi ke Mataram dengan Pesawat Zamrud.... dan mendarat di Lapangan Udara Ampenan.
Yang memberi aku ongkos dan membelikan tiket adalah Adik Ibuku (Almarhum),
Masa-masa sulit
Sepeninggal ibuku aku sering dimarahi ayah, karena aku memang agak hiperaktif, dan untung kakakku ada dua orang perempuan semua, dan adikku persis ada dua (Perempuan dan laki2) jadi aku adalah anak tengah.
Masa2 SD sepeninggal ibuku aku tinggal sama nenek dan kakek, kebetulan rumah orang tuaku masih satu pekarangan dengan mereka. akupun cucu laki2 pertama dari kakek-nenek, sehingga aku sedikit dimanja, walaupun demikian aku berangkat sekolah tidak pernah membawa bekal, karena aku sudah sarapan di rumah. paling2 kalau haus minta minum dikantin sekolah.
Pada tahun 1969 aku tamat SD, namun pada saat aku kelas Enam sekolah ku yang pertama sudah dibongkar dan diganti sekolah baru karena desa Tuban membuat SD baru, dan di Kelanpun dengan gotong royong membangun SD juga, dulunya Kelurahan Tuban mempunyai wilayah tiga desa adat, yaitu : Tuban, Kelan dan Kedonganan. dan Sekarang Kelurahan sudah dimekarkan menjadi dua Keluarahan Tubah terdiri dari dua desa adat Desa Tuban dan Kelurahan Kedonganan berdiri sendiri.
Setamat SD aku melanjutkan sekolah ke SLTP, karena nilai Ujian Nasionalku sangat baik, aku bisa memilih sekolah negeri di Kota Denpasar dulu Badung, Nilai Ujianku waktu itu 9,9.10 (9 Mapel Pengetahuan umum, 9 Mapel Bahsa Indonesia, dan 10 untuk Mapel Berhitung.
Memang pada jamanku hanya tiga mata pelajaran yang diuji secara nasional.
Karena aku tidak mengetahui perbedaan antara ST (sekolah Teknik) dan SMP, maka aku mendaftar saja aku ke ST, dan disana aku dijurukan ke Jurusan Bangunan Gedung .... mulai awal tahun 1969 aku belajar di ST. ternyata di ST diajarkan seperti SMP dan pelajaran pokoknya Tenik dasar bangunan dan gedung, diajar teori teknis menggambar bangunan dan llain-lain.
aku adalah satu2nya yang melanjutkan ke ST bangunan Gedung dan sepupuku melanjutkan ke Teknik Mesin..... jarak rumah dan sekolah cukup jauh yaitu sekitar 16 KM.... awalnya aku naik sepeda....tapi lama2 cape juga.
Tahun 1969 aku masuk di ST Negeri 1 Denpasar yang beralamat di Jalan Gunung Agung Denpasar, dan sekarang sudah dilebur menjadi salah satu SMP di Denpasar, bersebelahan dengan STM Nasional .
Karena jauh jarah rumah dan sekolah aku dititip pada salah satu keluarga orang lain di Denpasar, rumahnya persis di depan SMP 2 Denpasar, namanya Bapak AA Oka, pegawai Post Denpasar, orangnya memang agak berada, bila dibandingkan dengan keluargaku.
Namun dalam perjalanan waktu aku tidak betah tinggal di Bapak Oka, aku memilih pulang ke Kelan - Tuban dan Tinggal di bersama Kakakku Nomor satu, yang kebetulan sudah bersuami dan belum punya anak.
Setiap hari aku harus sekolah demikian jauh jaraknya untunglah pada jaman itu ada Mobil Bus Karyawan Penerbangan Sipil yang mengantar jemput Pegawai, dan kebetulan juga yang jadi sopirnya adalah saudara Nenekku.
Waktu berlalu begitu cepat, aku tamat ST Tahun 1972.
Semasa aku Sekolah dulu aku harus menyabit rumput setiap hari, untuk kuberikan sapi-sapi ayahku, maklum ayahku sebagai petani memiliki sapi.
Mada musim kering (kemarau) dikampungku tidak ada tumbuh rumput, maka aku harus bersepeda sejauh 7 s.d. 8 KM mencari rumput di sawah2 orang disekitar Abian Timbul (Kuta), bahkan sampai ke Suwung Kepawon (Pesanggaran), tapi aku tidak sendiri, banyak orang desa seperti aku, yang menarik mereka juga masih sepupu2 ku.
Setamat ST aku tidak melanjutkan Sekolah ke STM, karena aku pikir pasti orang tuaku tidak punya uang, dan pada tahun 1969 ayahku menikah lagi, dikaruniani anak, namun anak pertama dari pernikahan ke dua meninnggal pada saat masih kecil sekitar usia 4 tahun (aku sangat dekat dengan adikku itu) namanya Wayan Gendri.... aku tidak tahu apa penyakit adikku, kalau aku ingat2 seperti stef.
Karena aku tidak sekolah maka aku menjadi pengangguran, namun demikian aku tetap membantu orang tua diladang dan memelihara sapi, dan kebetulan di desa sebelah ada proyek pengembangan Bandara aku ikut menjadi peladen Tukang ( Buruh bangunan), disitu aku bekerja hanya dua bulan, dan bulan berikutnya aku bekerja sebagai penata taman di sebuah Hotel di Tuban dulu namanya Hotel Pertamina Kotegge.
Disitu aku bekerja kurang dari satu tahun, dan
Akhirnya aku mendapat khabar dari Lombok melalui surat Papanku yang kebetulan bekerja di Kantor Pemda Prov NTB.
Aku disuruh oleh pamanku ke Mataram Lombok, karena di Mataram ada bukaan PNS di Dinas Kehutanan akan dijadikan Polisi Hutan.
Pada bulan Maret 1973 aku pergi ke Mataram dengan Pesawat Zamrud.... dan mendarat di Lapangan Udara Ampenan.
Yang memberi aku ongkos dan membelikan tiket adalah Adik Ibuku (Almarhum),
Tidak ada komentar:
Posting Komentar